MEGIBUNG

Oleh : Drs. I Nengah Suardhana,M.Pd

Megibung berasal dari kata dasar “Gibung” yangmendapat awalan me-“Gibung” Berarti gabung/kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang. Sedangkan awalan me-berarti melakukan suatu kegiatan bersama-sama. Jadi kata Megibung adalah tradisi makan bersama yang diperkenalkan oleh masyarakat di Lombok Barat,NTB. 
Megibung disebut juga istilah “Satu Sele” artinya satu paket makanan dengan anggota maksimal 8 orang. Asal mula makanan tradisional ini, sesungguhnya berasal dari Karangasem Bali.
Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia,sekitar abad ke-17, Raja Karangasem mengadakan ekspansi ke pulau Lombok, untuk memperluas kekuasan dan wilayah teritorialnya.
Sehingga masyarakat yang ada diwilayah Lombok Barat sebagian penduduknya adalah orang Bali yang beragama hindu, berasal dari Karangasem dan kabupaten lainnya di Bali.
Tujuan dariMegibung adalah rasa bhakti dan yadnya (persembahan tulus ikhlas), menjunjung rasa toleransi tinggi, tidak melihat status sosial, kebersamaan, keharmonisan, ketertiban dan kerapian serta ini merupakan salah satu implemetasi dari hak azasi manusia. Dengan dasar filosofi : “Duduk sama rendah, Berdiri sama tinggi”. Dengan ide cerdas raja Karangasem saat itu, menyuguhkan makanan bersama ala KarangAsem yang dikenal Megibung adalah kebijakan yang tepat dan bijaksana.
Karena acara Megibung tidak hanya dinikmati warga Bali saja, tetapi dapat disuguhkan pada kelompok lainya.
Tradisi Megibung ini menjadi ciri khas turun temurun bagi masyarakat setempat dan dipertahankan oleh orang Bali di Lombok maupun di Karangsem sampai sekarang.
Proses penyembelihan babi dilakukan oleh orang khusus yang dipercaya dengan ucapan doa/mantra sesuai standar yang ada pada lontar Athawa Wedha II. 34.1. 

Setelah babi itu dipotong, dagingnya akan diolah dengan cara direbus, digoreng, dicincang di berikan bumbu genap, dikerjakan bersama-sama oleh Rang/Chef, dibantu dengan aNggota masyarakat lainnya, sehingga daging tersebut menjadi menu makanann tradisional ala Lombok. 
Makanan tradisional ini rasanyan sangat lezat dan nikmat dengan rasa khas atau sedikit pedas, sehingga menggugah selera makan seperti:Sate, Lawar, Soup (komoh), Gegubah/Lempyong, Pepesan dll. 
Dalam mengolah makanan terdapat pula bahan daging Sapi, Ayam, Kerbau yang akan disiapkan oleh panitia atau keluarga yang punya hajatan. 
Adapun kegiatan pada saat upacara panca yadnya tersebut, sudah pasti mereka mengundang keluarga besar, kerabat dekat atau teman sekerja yang kemungkinan berbeda agama, sehingga makanan Gibungan dibuat terpisah dan makanan tradisioanal ini terdiri dari 2 macam yaitu 1) Gibungan biasa dan; 2) Gibungan Tan Keni (makanan daging tanpa bahan babi).
Macam tradisioanal ini, terdiri darimakanan Lawar (daun belimbing muda direbus, daging beserta bumbu tertentu dengan proses dicincang),
Komoh (soup daging babi dan bahan lainnya yang telah dicincang kemudian dicampur dengan darah ayam, di sajikan dalam mangkok), Pindangan (soup daging babi atau kare babidisajikan dalam sebuah mangkok),
Olahan ( makanan mirip dengan gadogado), minuman air putih, soft drink atau minuman Tuak/Lau, dengansate aneka macam rasa, ukuran dan bentuk, jumlahnya sekitar 11 macam yaitu:Sate Asem, Sate Orob, Sate Sayang, Sate Brabas, Sate Kablet, Sate Coh-coh, Sate Belat, Sate Pusut, Sate Urutan, Sate Lembat, Sate Iga, dan Sate Wayang.
Adapun tata cara Megibung adalah:
  1. Para peserta akan duduk bersila membentuk lingkaran yang terdiri 8 orang maksimal;
  2. Nasi putih yang sudah dikemas dalam bentuk bundar, disuguhkan diatas Dulang(tempat makanan terbuat dari kayu berbentuk bundar/ seperti tempayan besar dan berkaki, yang sudah dilapisi dengan daun Enau yang dibuat menyerupai kubus sesuai ukuran Dulang tersebut, dan daun ini ditaruh diatas Dulang tadi agar tempat makanan kelihatan bersih; Lauk paukberupaLawar, Sate, Soup, Pepesan yang ditempatkan terpisah dalam satu wadah (tempayan kecil) diberikan dimasing-masing group;
  3. Dalam acara Megibung sudah ada protokol adat dengan bahasa Bali halus, yang akan memimpin acara tersebut sampai acaranya selesai. Adapun group Megibung, mereka akan menggunakan pakaian Adat Madya (pakaian Bali sederhana) tetapi bagi para undangan lainya, boleh berpakain bebas rapidan sopan; 
  4. Kegiatan Megibung dilakukan secara bersamaan dan mereka mencuci tangan sebelum makan, karena acara ini tanpa sendok maupun garpu seperti pada umumnya. Kecuali ada permintaan khusus, namun hal ini jarang terjadi. Biasanya para undangan sudah punya pengalaman, bila mereka kurang berkenan, biasanya akan makan dibelakang terpisah atau tersndiri dengan lainnya; 
  5. Pada saat Megibung, tidak boleh ada makanan sisa yang terjatuh di atas Dulang, namun harus di taruh di luar dulang/tempayan besar atau dibawah dekat mereka duduk; 
  6. Apabila ada salah peserta Megibung yang terlebih dahulu kenyang, orang tersebut tidak boleh bangun dari tempatb duduknya atau meninggalkan tempat Megibung karena akan merusak suasana kegiatan. Mereka
    harus menunggu perintah protokol/MC sampai acara selesai.
sumber:Koran SASTRA, Edisi 001
Sasih Jiyestha, Soma Kliwon Wariga, 30 April 2018

Blog, Updated at: February 18, 2019

0 comments:

Post a Comment


Klik Untuk Melihat Halaman