Orang Hindu Tidak Pernah Berduka Akan Kematian

Oleh: Dr. Lanang Ari Wangsa

SERING sekali kita menyaksikan dimedia cetak, di sosial media seperti facebook, instagram, ataupun di group-group whatapps, Telegram masseger, Facebook massager, dan lain-lainnya ucapan seperti teman-teman Hindu di Bali atau di seluruh Indonesia: “Turut ber-duka-cita atas meninggalnya bapak /ibu/ saudara kami si ..... semoga keluarga yg ditinggal menjadi tabah dan yang meninggal amor ring Acintya.

Teman-teman hindu kita terjebak dengan pernyataan atau ucapan yang secara sekilas nampak benar- benar berempati. Sesuatu yang kalau tidak boleh dikatakan meniru-niru ucapan simpati umat beragama lain terhadap kematian, hak tersebut nampak normal dan baik-baik saja, namun perlu disadari bahwa baik itu belum tentu benar, benar dalam hal ini adalah benar menurut phylosophy dan ajaran Hindu. 
Di dalam sloka Bhagavad Gita 2:11 dikatakan: 
“Kau bergelisah hati dan menangisi mereka yang tidak perlu ditangisi. Kata-katamu seolah penuh kebijaksanaan, padahal para bijak tidak pernah bersedih hati bagi mereka yang masih hidup, maupun yang sudah mati.”
Kemudian di lanjutkan dengan sloka Bhagavad-gita 2.12, 
Pada masa lampau tidak pernah ada suatu saat pun Aku, engkau maupun semua raja ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita semua akan lenyap.

Kedua sloka Bhagavad Gita itu itu mengajarkan Umat Hindu untuk tidak bersedih akan kematian, orang-orang bijak yang menyadari bahwa badan jasmani ini tidak kekal, dia tidak akan bersedih akan mereka yang masih hidup maupun yang sudah mati, yang kekal itu adalah sang Roh. Sabda Sri Kreshna dalam sloka Bhagavad Gita 1.12 itu mengingatkan kita kalau roh itu abadi. Kematian bukan akhir dari kehidupan, dengan alasan demikian Hyang Widhi menganjurkan manusia tidak menyesali kematian sebaliknya harus berani menghadapinya dan berupaya mencari jalan pembebasan dari hukum kelahiran dan kematian tersebut (Punarbawa).
Kematian dalam agama Hindu dianalogikan sepertinya orang mengganti pakaian yang lama artinya pakaian yang tidak layak digantikan dengan pakaian baru, badan jasmani punya batas/masa waktu hidup badan-badan itu dengan sendirinya akan rusak,dan sang jiwa akan pindah ke badan yang lain.
“Vasamsi jirnani yatha vihaya, Navani grhanait
naro parani, Tatha sarirani vihaya jirnany, Anyani
samyati navani dehi. (BG II-22) ”
Artinya: 
Seperti halnya orang menanggalkan pakain usang yang telah dipakai dan menggantikanya dengan yang baru.demikian pula halnya jiwatman meninggalkan badan lamanya dan memasuki jasmani yang baru .
“Jatasya hi druvo mrtyur, Ahruvam janma mrtasya ca, Tasmad apraiharye rthe,
Na tvam socitum arhasi
(BG. II-27)”, 
Artinya:
Sesungguhnya setiap yang lahir, kematian adalah pasti, demikian pula setiap yang mati, kelahiran adalah pasti, dan ini tak terelakkan, karena itu tak ada alasan engkau merasa menyesal.

Orang yang meninggal dunia hanya badan phisiknya ditinggalkan oleh sang roh, dan badan phisik ini di kembalikan ke pemilik abadinya yaitu alam semesta. Badan phisik yang terdiri dari panca maha bhuta itu dikembalikan ke panca maha bhuta alam semesta melalui proses ngaben yang dilakukan sanak saudara yang meninggal dunia dengan kremasi dan melarungnya ke laut.
Dalam weda dikatakan segala masalah dan musibah tidak pernah diciptakan Hyang Widhi, demikian juga dengan kelahiran dan kematian, semua itu karena ulah manusia yang tidak bisa berdamai dengan alam, dan manusia sendiri menerima kelahiran maka harus siap menerima kematian

Kesenangan duniawi yang menyebabkan orang betah dan ingin selalu berada dalam badan
Menjaga badan penting dan harus tapi jangan berlebihan harus seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani. Manusia tidak mampu mempertahankan badan jasmani pasti kembali ke asalnya yaitu panca maha buta.

Menyadari esensi dan makna sebuah kematian, “ORANG HINDU TIDAK PANTAS UNTUK BERDUKA ATAS KEMATIAN” ucapan tentang kematian kerabat, teman ataupun siapa saja yang berbunyi “Turut berduka cita atas kematian si A atau si B dll....,” sebaiknya kita ganti katakatanya dengan yang lebih esensial, yang lebih sesuai dengan ajaran agama Hindu, karena orang Hindu tidak berduka atas kematian. Dulu tujuh belas tahun yang lalu penulis juga pernah menulis di media salah satu majalah Hindu tentang ucapan duka cita atas kematian orang Hindu yang sebaiknya tidak diucapkan.

Sepantasnya orang Hindu mengucapkan “BEALASUNGKAWA” atas sebuah kematian keluarga, rekan, kerabat, sahabat ataupun siapa saja yang meninggal dunia.
jasmaninya, itulah sebabnya badan jasmani di dalam purana diistilahkan sebagai istana Bhogawati yaitu istana tempat menikmati segala makana. Saat kematian datang orang jadi sedih dan takut, sedih karena meninggalkan kebiasaankebiasaan yang telah dujalani bertahun-tahun terlebih-lebih kebiasaan itu hal-hal yang menyenangkan, maka peru kita sadari betul bahwa sang diri ini bukan hanya sekedar badan, ada jiwa yang perlu mendapat pencerahan dengan pengetahuan rohani.
Orang-orang akan bertanya, apa bedanya DUKA CITA dan BELASUNGKAWA?
Kalau “Duka” sudah jelas tidak dianjurkan oleh Bhagavad Gita, duka berasal dari kata “Dhuk” atau sedih atau menderita, dan “Citta” berarti perasaan atau pikiran, jadi Duka Cita dapat diartikan “perasaan dan pikiran yang bersedih atau menderita. Seperti halnya Bhagavad Gita menganjurkan, begitu juga logika kehidupan ini menanyakan, “Kenapa kita berduka atas kematian?” bukankan roh orang meninggal itu tidak pernah bisa dimusnahkan?
Bukankah roh tidak pernah mati?, bukankan sang roh akan mencari badan phisik yang baru lagi? Mederitakah sang Roh yang meninggal itu? Kalau pertanyaan terakhir ini, jawabannya tergantung karma wasana roh tersebut selamaa dia memiliki badan phisik di dunia. Kalau boleh kita jujur, mereka yang menagis dan bersedih dengan meninggalnya orang-orang dekatnya itu bukanlah sedih akibat kematian sang seda (yang meninggal), tetapi lebih dikarenakan orang yang masih hidup itu merasa kehilangan, tidak jauh beda dengan kehilangan bendabenda yang disayangi akibat “keterikatan”, mereka yang ditinggal menjadi sedih bukan karena orang yang meninggal nantinya akan menderita, atau perjalanan selanjutnya sang seda setelah meninggal, tetapi kerabat yang masih hidup menangis sedih sematamata karena kehilangan, dia sedih terhadap nasib dirinya sendiri yang kehilangan orang tuanya sedih sama dirinya yang tidak bisa mendapat perhatian orang tua yang sudah meninggal, saudara-saudaranya yang sedih menangis karena dirinyatidak lagi mempunya saudara tempat bercerita, curhat dan lain-lainnya, jadi sedih atau duka yang terungkap itu sematamata sedih pada diri sendiri yang kehilangan sesuatu/seseorang yang selama ini bermanfaat bagi kehidupannya selama ini. Ini bukanlah sedih karena sayang pada sang seda, tapi sedih karen diri sendiri.

Krishna sudah sangat memahami esensi kehidupan dan keterikatan di alam skala ini. Itulah sebabnya kenapa Krishna menyadarkan Arjuna, dengan mengatakan pada Arjuna, bahwa dia tidak pantas besedih terhadap kematian orang yang mati, tidak pantas sedih terhadap sesuatu yang tidak pantas dibuat sedih. Orang yang mati sudah merupakan perjalanan hidupnya, konsekwensi sebuah kehidupan adalah kematian, tanpa arjuna bunuhpun dia (korawa Cs) pasti akan mati pada waktunya.
Lantas kenapa kalau tidak berduka cita lantas kita BERBELASUNGKAWA?
Apa makna BELASUNGKAWA?

Belasungkawa berasal dari kata “Bela” yang berarti menolong + “Sungkan” yang berarti sakit, atau susah +akhiran “Wan”, seperti kata-kata ilmuwan yang berarti orang berilmu, budayawan yang berarti orang yang paham dan perduli akan budaya, dengkian juga dengan Bela+sungkan+wan yang dapat diartikan sebagai “ Membantu orang yang sedang dalam kesusahan”. 
Kalau kita mengucapkan “Turut BERBELASUNGKAWA terhadap meninggalnya.... “ artinya kita turutmembantu meringankan kesusahan kerabat yang ditinggal meninggal oleh sang Seda tersebut. Apa yang dapat kita bela/bantu?
Biasanya kerabat orang yang meninggal akan sibuk melakukan persiapan melakukan proses sawa preteka atau proses upacara Nyiraman layon, mendem layon ataupun melakukan kremasi dan bahkan persiapan pengabenanan atau pelebon. Tentunya dengan kondisi tersebut kerabat sang seda akan repot dan sibuk, disanalah kita turut berbelasungkawa alias memberikan bantuan terhadap orang yang lagi kesusahan / sibuk.

Kalau kita sempat melihat bagaimana orang bali menggusung layon (jenazah) ke setra, maka akan kita dapati sorak sorai yang gemuruh... tidak sedikitpun terlihat sedih, bila kebetulan jalan harus menyebrang sungai kecil maka akan saling siram diantara pemikul layon atau megobagan, bersorak penuh kegembiraan. Bila para pemikul kebetulan mencapai perempatan jalan, maka pasukan pemikul akan berputar pradaksina, mengindikasikan perjamanan sang Atma menuju asalnya. Semuanya tidak dalam nuansa kesedihan.

Seyogyanyalah orang Hidu tidak lagi berduka terhadap kematian. Mari sama-sama menyadari bahwa kita bukanlah mahluk phisik yang mendapatkan fenomena spiritual, tetapi sebaliknya, kita ini adalah mahluk spiritual (Jiwa) yang mendapat fenomena phisik.
sumber: Koran Bulanan SASTRA, Edisi 002
Sasih Jiyestha, Budha Umanis Julungwangi, 16 Mei 2018

Blog, Updated at: February 18, 2019

0 comments:

Post a Comment


Klik Untuk Melihat Halaman