Menyongsong Loka Sabha PHDI NTB 2019

Posted by


Diskusi Publik ICHI NTB
Dengan tema:  ‘’Diskusi Publik Menyongsong  Loka Sabha PHDI NTB  2019’’,  sub tema:   ‘’Langkah-Langkah   Strategi Umat Hindu NTB.’’
Ketua ICHI NTB,  Dr. Ir. I Gst. Lanang  Media, M. Si, mengatakan, tujuan diskusi kali ini  adalah untuk menghimpun masukan-masukan  dari  para  peserta  mengenai berbagai hal terkait dengan permasalah umat Hindu di NTB.  Dari masukan  yang  berhasil dirangkum,  kemudian akan dirumuskan dengan baik oleh pleno yang dibentuk oleh ICHI.  Hasilnya  akan diserahkan kepada PHDI  NTB untuk selanjutnya dijadikan bahan di dalam menyusun program kerja. ‘’Agar kita tidak memberikan PHDI  hanya semacam cek kosong,’’   ungkap Media.Di sisi lain, lanjut  Media,  apa yang dihasilkan di dalam diskusi,   agar dapat  juga dimanfaatkan oleh  ormas-ormas  Hindu yang lain sesuai dengan bidang mereka masing-masing.  Sehingga nanti diharapkan parisada  dapat  bersinergi  dengan  ormas-ormas Hindu yang lain,  termasuk dengan para tokoh Hindu di birokrasi,  legislatif dan lembaga lain.  ‘’Dengan tujuan yang sama yakni  untuk memajukan umat,’’  harap  Media.
Sementara  Ketua PHDI  Propinsi  NTB,  Drs. I Gde  Mandra, M.Si,  menyatakan apresiasinya  kepada jajaran ICHI NTB yang telah berinisiatif menyelenggarakan  Diskusi Publik  di dalam menyongsong Lokasaba PHDI NTB pada sekitar November  2019.  Apa yang dihasilkan nanti dari diskusi, sungguh menjadi masukan yang sangat berharga bagi  jajaran pengurus  PHDI NTB yang baru nanti di dalam menyusun program kerja.  ‘’Agar  program kerja PHDI ke depan tidak  cuma  copi paste saja,’’ kata dosen  Fakultas  Ekonomi  Unram itu dalam  sambutannya.

Pemaparan Materi
Sebagai pemateri,  Gde Mandra   menyajikan topik:  Refleksi Kepemimpinan  PHDI NTB  Tahun 2014-2019.   Dia  memaparkan,  selama dirinya memimpin PHDI NTB,  melanjutkan program- program dan kegiatan kepengurusan sebelumnya. ‘’Memang ada yang sudah dapat dilaksanakan dan  ada juga yang  masih perlu disempurnakan,’’  ungkapnya  landai.   Menyinggung soal kandidat  calon Ketua PHDI NTB masa bhakti berikutnya,  Gde Mandra mengatakan,  ’’Silakan umat  yang menyeleksi  siapa  di antara tokoh Hindu NTB  yang dianggap paling  mumpuni.’’
‘’Yang jelas,  parisada memerlukan  pemimpin yang siap ngayah, payah  dan layah,’’  tambahnya.
Pemateri  kedua,  Drh. Ida Bagus Windia  Adnyana,  Ph.D  (dari ICHI NTB)  menyajikan   topik  Strategi Membangun  Jaringan Kerjasama.  Dikatakan  Ida Bagus Windia,  di era sekarang  ini  harus jeli melihat  peluang dan tahu cara untuk meraih peluang tersebut. ‘’Upakara mulang pakelem di Gunug Rinjadi setiap tahun itu, bisa dikembangkan sebagai wisata  geo park  yang  bisa dihandalkan,’’  sebut dosen Unud  asal Mataram itu.
Sementara pemateri ketiga,  Dr. I Gst. Lanang Ari Wangsa, SE, MM  (ICHI NTB) dengan topik Manajemen Organisasi Sosial yang efektif.  Dikatakan  Lanang  Ari Wangsa,  mengelola organisasi  harus dengan manajemen modern dan profesional,  sesuai dengan tuntutan zaman yang serba canggih sekarang ini. ‘’Ini kunci agar organisasi  tetap eksis, kuat dan  efektif,’’   kata  profesionalis  Telkom  Bali  itu.
Di sisi lain, pemateri keempat,  Imang Sugiartha, SH  (ICHI NTB) menyajikan  topik  Existing Condition Umat Hindu NTB,  Suatu Tinjauan Empiris.  Pemateri ini memaparkan  kondisi nyata keberadaan krama Hindu NTB dari empat aspek, masing-masing :  Aspek  agama,  aspek  pendidikan,  aspek ekonomi dan aspek sosial.  Dikatakan Imang,   selain tattwa agama,  fanatik primordialisme  adalah  kekuatan  bagi  krama Hindu.  Bagi  umat yang  tidak faham  tattwa misalnya,  dia tetap kuat  keyakinannya,  karena merasakan Hindu adalah agama akar leluhur.  ‘’Fanatik primordialisme   adalah kekuatan yang dahsyat, maka jangan diabaikan,’’  ungkap  wartawan angkatan  1987 – 2007  itu.

Komentar Peserta:
  1. I Gde Subrata, Bimas Hindu NTB.
  • Srada sebagian umat Hindu sudah  mengkhawatirkan.
  • Mari kita tunjukkan kelebihan-kelebihan ajaran Hindu. Tunjukkan hal-hal   yang membanggakan  di Hindu.
  •  Hindu fleksibel: yang mau memuja dengan bernyanyi, japa, agnihotra,
  •   silakan. Yang memuja dengan upakra: besar, sederhana, kecil, silakan. Hindu
  •   memberikan ruang untuk semuanya.
2. Ida Made Santi Adnya, Ketua PHDI Kota Mataram.
  • Di dalam menjalankan organisasi, ada dua pilihan: 1. Semua yang dilakukan  memiliki tujuan (motif).  2. Semua yang dilakukan tanpa tujuan (tanpa   motif). Yang cocok bagi figur  pemimpin PHDI adalah yang kedua, bekerja  tanpa motif pribadi. Yang penting focus bekerja untuk kemajuan PHDI.
  • Cuma saja, setiap ‘mimpi’  baru  bisa dilakukan kalau ada uang.  Nah masalahnya di uang ini,  bagaimana memperolehnya.
  • PHDI harus punya data base jumlah umat Hindu di NTB.
  • PHDI harus membentuk badan kesehatan.
  • Kita di NTB ini harus punya sistem hukum  adat yang bersifat desa kala  patra. Selama ini yang dipakai di dalam sengketa keperdataan adalah hukum adat yang berlaku di  Bali, banyak yang tidak cocok dengan  kondisi umat   Hindu di  NTB.
3. Sri Damar (Pandit Agni Shri Gana Cakra).
  • Hindu di era sekarang, saatnya  mengedepankan dua hal: 1. Hindu mardawa ( kesederhanaan),  khususnya  di dalam ritual-ritual.   2. Kesetaraan, yakni  tidak ada kasta-kasta di kalangan umat Hindu. Semua kita bersaudara dan setara.
  • Saya pernah tidak diizinkan  melakukan agnihotra di salah satu pura di Cakranegara, sementara  banyak umat yang mekemit sambil mebotoh  dan pesta miras,  diizinkan. Mana yang baik?
4. I Gst. Ln. Media, Ketua ICHI NTB).
  • Praktik-praktik  (tradisi) keagamaan di dalam Hindu  harus dinamis. Jangan  tradisi diagamakan.
  • Komunitas-komunitas seperti  sampradaya,  jangan  terlalu eksklusif.  Apabila ada perbedaan-perbedaan yang  cenderung meruncing, Parisada harus hadir untuk meluruskannya.
  • Terkait dengan kesulinggihan, pediksaan sesuai dengan guron-guron  masing-masing.  Nah,  siapa yang mau pakai sulinggih siapa, serahkan pada umat.
5. I Gde Putrasoda, PHDI/ICHI NTB.
  • Sulinggih, apakah pedanda, pandita mpu, pandit, dll adalah sang purohita atau rohaniwan Hindu. Karenanya, sulinggih  adalah setara, tidak perlu lagi dicari-cari perbedaan-perbedaannya. Agar umat tidak jadi bingung.  Masalah  umat mau pakai sulinggih siapa, itu hak umat.
6. I Wayan Suyadnya (ICHI NTB).
  • Aneh, banyak tokoh-tokoh  parisada yang tidak ngerti  apa itu parisada. Bahkan pengurus PHDI tidak mengerti tupoksinya.
  • PHDI harus menyusun program kerja 5 tahun ke depan.
  • PHDI tidak dapat sepenuhnya  melaksanakan AD/ART PHDI, karena berbagai faktor.
  • Harus dipikirkan langkah-langkah/ strategi mencari dana untuk kegiatan operasional PHDI.
  • Bisa saja menghimpun dana dari umat PNS, BUMN, swasta, dll.
7. Ketua PHDI Lotim.
  • PHDI perlu mengeluarkan  bisama untuk pendataan umat Hindu, agar PHDI punya data base.
  • Apakah data base parisada bisa memiliki kekuatan yang sama dengan  BPS Prop. NTB?
8. I Gusti Lanang Putra.
  • Perlu dilakukan update data base umat Hindu sampai ke sekolah-sekolah.
  • Semua agama berkampanye  dengan diksi-diksi seperti  masuk agama A  akan masuk surga, dll.
  • Sangat sulit  menghilangkan judi gocekan di kalangan umat. Bahkan, ada umat yang sampai bisa ngaben setelah menyelenggarakan gocekan.
  • Masalah upakara, sangat perlu  dilakukan penyederhanaan-penyederhanaan, agar tidak menyusahkan umat.
9. I Gde Partha, ICHI NTB.
  • Instrumen yang paling aplikatif  dan efektif  bagi umat adalah banjar.
  • Melalui banjar  banyak yang bisa dibenahi, termasuk  untuk menghilangkan judi dan miras pada saat upakara.
  • Kalau banjar kita kuat dan punya komitmen,  masalah judi dan miras itu pasti bisa kita hilangkan.
  • Masih banyak  kampung-kampung Hindu yang tidak ada banjarnya. PHDI harus mendorong umat Hindu di kampung-kampung untuk membentuk banjar.

# Dielaborasi  dari  diskusi publik ICHI
NTB,   01/09/2019, STAH Mataram.
# Imang  S. / 081917180160


Blog, Updated at: September 07, 2019

0 comments:

Post a Comment


Klik Untuk Melihat Halaman