Diskusi Purnama Kesanga ICHI NTB

Posted by


Sebagai realisasi program kerja yang telah disepakati, ICHI NTB melaksanakan diskusi purnamean yang kedua pada hari Minggu, 17 Februari 2019 bertempat di kampus STAHN Gde Pudja Mataram. Tema yang diangkat kali ini adalah Kami Bangga Menjadi Hindu.
Menurut Dr. I Gusti Lanang Media,M.Si, Ketua ICHI NTB saat memberi sambutan, tema ini diangkat setelah melalui diskusi cukup panjang pada grup medsos. Harapan dari hasil diskusi adalah agar para cendekiawan Hindu di Nusa Tenggara Barat mampu memberikan pemikiran dan kontribusi bagi pencerahan umat agar memiliki  pengetahuan bahwa Hindu adalah ajaran yang palih hebat, berbeda dengan agama-agama yang lain. Dengan demikian diharapkan menimbulkan rasa bangga, rasa sayang sampai akhirnya mampu mengimplementasikan ajarannya dalam kehisupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
Diskusi kali ini selangkah lebih maju dari diskusi bulan sebelumnya, karena unsur yang hadir lebih luas. Ketua PHDI NTB, Bapak Drs. I Gde Mandra ,M.Sc mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berkenan hadir . Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian semua lapisan masyarakat terhadap kemajuan Hindu di Nusa tenggara Barat semakin baik. Unsur-unsur yang hadir antara lain Ketua PHDI Kota Mataram, Ida Made Santhi Adnyana, Pengurus WHDI Prov NTB dan Kota Mataram, Unsur STAHN Gde Pudja Mataram, Pinandita/Pemangku, Penyuluh Agama Hindu, Guru Agama Hindu, KMHDI, Tokoh Masyarakat serta Dharmika.

Ada dua penyaji pada diskusi kali ini yaitu Bapak Dr. I Gusti Lanang Ari Wangsa ,SE,MM dengan judul Kami Bangga Menjadi Hindu dan I Komang Sugiartha,SH dengan judul Hindu Rumah Kami.
Lanang Ari Wangsa mengawali penyajian dengan menyampaikan cuplikan salah satu Kitab Suci Hindu, Sarasamuscaya yang berisi tentang betapa lengkapnya ajaran Hindu. Kemudian beberapa kutipan sloka (ayat suci) dari beberapa kitab lainnya seperti , bahwa Hindu mengajarkan manusia di seluruh dunia adalah bersaudara ( Vasudhaiva Kutumbakam) , yang juga tercermin dari beberapa sloka mantra/doa yang selalu diakhiri dengan permohonan aga semua mahluk hidup di seluruh alam menjadi bahagia (loka samasta sukhino bhawantu). Dari kutipan itu saja menunjukkan bahwa Hindu untuk semua, dan bukan hanya untuk umat Hindu saja. Selanjutnya menampilkan beberapa fakta empirik dari berbagai terbitan buku serta artikel di dunia maya baik bersifat kajian maupun penelitian yang membahas keuniversalan ajaran Hindu. Beberapa ilmuwan Hindu menemukan dasar teknologi yang menjadi landasan pengembangan teknologi masa kini, seperti teori massa dalam ilmu Fisika modern, Kitab Ayurweda sebagai ilmu kedokteran Hindu, Ilmu Kosmologi, Psikologi dan Teori Atom sampai ilmu astronomi dan matematika dengan rumus Phi dan angka Nol yang telah ditulis oleh cendekiawan Hindu jauh sebelum dimunculkan oleh para ilmuwan barat.
Disamping dari segi keilmuan Hindu memiliki hari Raya nyepi sebagai salah satu  implementasi ajaran Tri Hita Karana untuk menjaga kelestarian alam dan hemat energy yang kemudian menjadi inspirasi gerakan “Earth Hour” yaitu aksi mematikan listrik selama 60 menit yang diikuti oleh 180 negara di seluruh dunia.
Selanjutnya I Komang Sugiartha,SH pembicara kedua dengan judul Hindu Rumah Kita lebih didasari pada fenomena pemahaman keyakinan kalangan remaja terhadap impelentasi ajaran Agama Hindu dikelompokkkan menjadi empat yaitu mereka beragama Hindu karena faktor keturunan, para remaja tidak memahami ajaran agamanya dengan benar, Hindu adalah ajaran agama leluhur serta Hindu sebagai ajaran agama yang rasional dan fleksibel. Masing-masing kelompok pemahaman ini memiliki implikasi yang berbeda dalam implementasi beragama. Menurut Sugiarta para remaja perlu diberikan pencerahan dengan bahasa dan metoda sesuai jamannya. Pencerahan – pencerahan tersebut agar mampu menjawab kegalauan para remaja terhadap keraguan atas kebenaran ajaran agama, keraguan atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab pada era milenial, serta mengadopsi jawaban sikap kritis sebagai cirri remaja.

Pada sesi tanya jawab yang dimoderasi oleh Drs. Dewa Wayan Parwata Bonha,MM mendapat tanggapan dan masukan beragam dari berbagai kalangan. Salah satu peserta dari KMHDI menyampaikan bahwa memang di kalangan generasi muda masih ada yang merasa canggung untuk menunjukkan eksistensi diri sebagai pemeluk Hindu , karena merasa berbeda dari yang lain. Menanggapi hal tersebut Dr. Wayan Wirata (dosen STAHN GDE Pudja) berharap adanya penyeragaman persepsi tentang ajaran Weda. Menurut hasil penelitiannya bahwa siswa-siswa Hindu termarginalisasi pada sekolah-sekolah non Hindu. Pada sekolah-sekolah tersebut tidak diajarkan pelajaran Pendidikan Agama Hindu. Peserta lain juga memberikan pendapat bahwa pendidikan merupakan ujung tombak dalam membangun pemahaman agama oleh karena itu maka diharapkan ICHI mampu memberikan hasil kajian kepada lembaga berwenang sebagai bahan masukan dalam penyusunan kurikulum.
Pada akhis sesi diambil kesimpulan antara lain bahwa dalam penanaman nilai ajaran Hindu adalah :
  1. Menekankan keyakinan pada Mantram Weda bukan menghafal Mantram Weda tesebut.
  2. Dalam memberikan pembelajaran agama diawali pada suasana tahap menyenangkan sehingga sampai tahap seseorang merasa membutuhkan.
  3. Untuk mengatasi konversi selain melalui pendidikan agama juga melalui pencegahan dini
  4. Hindu yang  fleksibel bukan berarti mengabaikan, maka revitalisasi pemahaman konsep yadnya menjadi penting.
  5. Hindu memiliki kelebihan-kelebihan dari berbagai segi dibandingkan dengan ajaran agama lain
  6. Ajaran Hindu denagn hukum  karma phala dan reinkarnasi satu-satunya  yang mampu menjawab fakta kelahiran manusia berbeda
  7. Vasudhaiva Kutumbakam adalah ajaran paling mendasar tentang persaudaraan universal yang tidak ditemukan pada ajaran agama lainnya
  8. Hindu bukan agama egois karena setiap doa dan mantra selalu diakhiri dengan permohonan kedamaian jagatraya
  9. Cendekiawan Hindu adalah peletak dasar keilmuan modern, bahkan dalam Kitab Weda telah membahas berbagai disiplin ilmu modern seperti tentang astronomi, kosmologi, psikologi,dan ilmu fisika.
  10. Dari berbagai aspek kelebihan tersebut tidak ada alas an untuk tidak bangga menjadi pemeluk agama Hindu
  11. Rasa bangga sebagai pemeluk Agama Hindu menjadi fondasi utama dalam membangun Hindu di masa depan.
Galery foto silakan klik disini


Blog, Updated at: February 17, 2019

0 comments:

Post a Comment


Klik Untuk Melihat Halaman