Back to Dharma

Posted by

Dari Dialog ICHI NTB  dengan Mangku Pastika


Presiden  World Hindu Parisad,   Komjen Pol  (pur) Drs. I Made Mangku Pastika, M.M  menyatakan rasa keprihatinannya  dengan  kondisi umat hindu di Bali sekarang ini yang terus disibukkan oleh  berbagai kegiatan ritual.  Ritual-ritual tersebut  semakin ribet dan menyusahkan umat.  Belum lagi upakara-upakara  yang  dilakukan membutuhkan biaya besar dan menjadi beban bagi umat yang tidak mampu.  ‘’Kenapa sih mau sembahyang  saja susah,  harus cari tukang banten segala macam  baru sembahyang,’’  ungkap  mantar Gubernur Bali dua periode itu dalam  acara  dialog  dengan para pengurus dan anggota Dewan Pimpinan Regional  Ikatan Cendekiawan Hindu  Indonesia  NTB  di  Ruang  Sangkareang  Hotel Lombok Raya Mataram,  kemarin sore.

Mangku pastika di dalam pertemuan tersebut didampingi oleh Sekretaris  World  Hindu Parisad,  I Ketut Donder.  Tampil sebagai moderator  dalam dialog tersebut, Ketua ICHI  NTB,  Dr. Ir. I Gusti Lanang Media, M.Si.  Kedatangan Mangku Pastika dan Ketut Donder,  menjadi nara sumber pada  acara Dharma Tule  yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Besar Hindu (IKBH) Polda NTB, berkaitan dengan Dharma Santi  Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1941,  yang dilaksanakan di Gedung Sasana Dharma Polda NTB. Dharma Tule mengambil tema:  Hindu for Better Life

Dikatakan Mangku Pastika,  Hindu itu universal,  sederhana, fleksibel  dan logik.  Tidak ada dogma dah tahayul di Hindu.  Namun kenapa di dalam pelaksanaannya malah dibuat jadi rumit dengan ritual-ritual.  Nilai luhur hindu  bukan pada upakara-upakara yang  susah dan cenderung dibikin ruet. ‘’Kalau mau mengabdi sama Tuhan,  kasihanilah ciptaan-Nya,  kan begitu  pesan Bhagawad Gita,’’  sebut  Mangku Pastika.

Mangku  pastika mengatakan,  ajaran Hindu harus disesuaikan  dengan zamannya.  Ada ajaran desa, kala,  patra.  Ini merupakan 3  dimensi di dalam melaksanakan ajaran agama.  Karenanya, kehidupan sekarang  jangan saklek masih berpedoman pada tata cara yang berlaku  pada zaman 100 tahun lalu, tetapi  harus yang  sesuai dengan kehidupan sekarang.  Jadikanlah Hindu menjadi pedoman hidup (way of life),  dan Hindu for better life. Untuk menuju ke situ, tidak ada pilihan lain, caranya adalah   back to dharma.  ‘’Dharma sebagai way of life,  dharma memfasilitasi hidup umat menjadi  lebih mudah,’’  sebut Mangku pastika. 

Menurut Mangku Pastika,  Hindu banyak punya orang pintar,  banyak punya  cendekiawan  di bidang agama. ‘’Nah, tugas  orang pintar  itu adalah membuat yang sulit-sulit menjadi mudah,  bukan  malah sebaliknya, membuat yang mudah menjadi sulit,’’  ungkapnya.
Mangku Pastika menyebutkan,  data menunjukkan bahwa Hindu sekarang ini menduduki peringkat ke 4 di dunia,  sekitar 11 persen dari seluruh  penduduk dunia. Yang terbesar jumlah pemeluknya adalah Kristen, kedua Islam, ketiga ateisme, keempat baru Hindu.  Nah, karena kerumitan-kerumitan,  aturan adat yang kaku, sangat mungkin  umat   kita secara tidak sadar telah melemahkan dirinya sendiri.  ‘’Akibatnya, banyak umat yang terkonversi,  paid bangkung,’’  sebutnya.

Keadaan ini,  menurut Mangku Pastika,  tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Para cedekiawan seperti  ICHI harus bergerak membenahi keadaan ini.  Jangan sampai umat Hindu digilas oleh zaman yang secara cepat berubah. ‘’Jaman sudah berubah maju, sementara  umat kita masih berkutat pada  upakara-upakara yang aneh-aneh yang notabene  dasarnya ‘’mule keto,’’   sebutnya. (rk)


Blog, Updated at: February 25, 2019

0 comments:

Post a Comment


Klik Untuk Melihat Halaman