Posted by


Revitalisasi  Pemahaman dan Pelaksanaan Yadnya
Dirangkum dan Dielaborasi dari ‘’Diskusi Purnama’’ DPR ICHI NTB
Mataram, 27 Januari 2019
Penyaji: Dr. Ir. I Gusti Lanang Media, M.Si.,  Ketua DPR ICHI NTB.   

Yat karosi yad asnasi     Yaj juhosi dadasi yat
 Yat tapasyasi  Kauntya   Tat kurusya madarpanam
Artinya, apapun yang kau kerjakan, kau makan, kau persembahkan, kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan Kuntiputra,  lakukanlah sebagai bakti kepada-Ku.


Yadnya adalah semua perbuatan yang berdasarkan dharma  dan dilaksanakan dengan tulus ikhlas. Yadnya bukan tradisi turun temurun, tetapi  melaksanakan yadnya adalah kewajiban bagi setiap umat Hindu.  
Umat Hindu jangan terkungkung pada makna yadnya dalam bentuk ritual/upakara  saja. Namun lebih luas dari itu,  seperti melakukan kegiatan-kegiatan  yang bernilai kemanusiaan, sosial dan pemeliharaan lingkungan adalah yadnya.  Apa artinya melaksanakan upakara besar-besaran, tetapi kita tidak berprikemanusiaan.  Apakah salah melaksanakan upakara besar-besaran? Jelas,  tidak.   Namun  penting bagi umat Hindu untuk membagi pikiran pada sisi lain yang bernilai kemanusiaan, sosial dan pemeliharaan lingkungan.  Tidak ada yang melarang bagi umat yang mampu (kaya) untuk melakukan upakara besar-besaran.  Tetapi,  akan menjadi masalah ketika banyak umat yang kurang mampu ikut-ikutan melakukan upakara me-gede-gedean,  entah karena gengsi atau apa,  dengan memaksakan diri  sampai berutang di sana-sini. ‘’Orang kaya di Bali banyak memberi contoh bagaimana melaksanakan ritual dengan kemewahan.’’ (Putu Setia 1996). 
Keadaan ini jelas karena kurang faham mengenai filosofis yadnya itu sendiri.  Bahkan seorang Peneiliti  Antropolog,  Cliffortf Getz,  menyimpulkan hasil penelitiannya di Bali bahwa: ‘’Umat Hindu di Bali sangat sibuk melaksanakan upacara dengan banten yang tidak pernah mereka ketahui maknanya.’’

Pandangan dan saran para peserta diskusi:
1.    I Gde Mandra, Ketua PHDI Prop. NTB:
  • Yadnya bagi umat Hindu adalah wajib sebagai bentuk rnam atau membayar utang.  Namun, pelaksanaannya masih jauh dari tattwa.
  • Untuk upacara ngaben banyak umat yang  menyumbang besar-besar, sementara  kalau untuk peningkatan kwalitas  SDM umat,  sumbangan sangat sulit diperoleh.
  • Padahal, untuk upacara Ngaben tidak mesti terlalu  me-gede-gede-an.
  • Konsepnya,  yadnya itu dapat  mendatangkan kesejahteraan bagi umat. Namun kenyataannya,  masih banyak umat yang miskin.
  • Pemahaman tattwa agama belum tersosialisasikan dengan baik.

2.    Gusti Mangku  Mardana:
  • Upakara ngaben ataupun yang lain, dapat saja dilaksnakan dengan sederhana, asalkan tidak menyimpang dari tattwanya.
  • Masih ada umat yang gengsi apabila melaksanakan upakara sederhana.
  • Keadaan ini perlu diperbaik secara pelan-pelan,  bagaimana agar dasar tattwa  menjadi pegangan yang paling utama di dalam melaksanakan upakara.

3.    Gusti Mangku Kaler Marjana:
  • Pelaksanaan upakara sesungguhnya tidak ribet.  Masalahnya, umat telah terjebak  dengan tradisi-tradisi  ‘’mule keto.’’
  • Saya merasakan,  di tengah-tengah umat  adat lebih kuat daripada agama.
  • Semestinya,  ketika hendak melakukan upakara tertentu,  lihat dulu isi kantongnya baru melaksanakan upakara.
  • Sastra mengatakan: ‘’Yadnya yang paling besar pahalanya adalah membentuk  anak menjadi suputra.’’

4.    I Gst. Ln. Putra:
  • Yadnya yang dilakukan oleh Umat Hindu rata-rata  masih menitikberatkan pada bhakti yoga, sementara karma yoganya kurang.
  • Ketika melakukan pemujaan, kita takut sekali kalau bantennya kurang. Padahal, kalau  bantennya kurang bisa dilengkapi dengan Gayatri mantram.
  • Umat belum mengakui bahwa persembahan mantram adalah yadnya yang terbaik.


5.    I Gst. Ayu Intan, pengurus WHDI NTB:
  • Banyak nyame Bali di Lombok saat hendak pulang kembali ke Bali merasa tidak mampu memenuhi kewajiban adat yang sangat memberatkan di Bali.
  • Keadaan ini tentu saja masalah yang harus  dicarikan solusinya.
  • Untuk memudahkan melakukan upakara pitra yadnya, perlu keberadaan rumah duka. Agar proses upakara ngaben menjadi lebih sederhana yakni selesai di setra.

6.    I Made Metu Dahana:
  • Saya setuju dengan upakara  yang besar,  asalkan  dana yang digunakan adalah bunga deposito (tabungan).
  • Upacara itu membutuhkan bunga, buah, jajan, kacang komak, dll, jadi untuk pemberdayaan ekonomi umat. 

7.    I Made Selamet,  anggota DPRD Prop. NTB:
  • Di Bali ada yang menyimpang di dalam pelaksanaan upakara, terutama menyangkut bahan bantennya, seperti  tumpengnya  kering, jajan jamuran, buah  berek,  sate dan daging sudah busuk.
  • Sedangkan konsepnya kan bahan banten itu setelah selesai upakara menjadi makanan suci atau persadam bagi pemuja.

8.    I Gst. Lanang Patra:
  • Yang lebih penting selain revitalisasi pemahaman upakara adalah bagaimana kalangan generasi milenial Hindu  dapat memahami bahwa bekerja itu juga adalah kewajiban. Karena konsekwensi dari hidup adalah harus bekerja.
  • Negara-negara  seperti Cina, Singapur,  bisa maju karena kwalitas SDM nya baik.
  • Kalau ekonomi sudah bagus,   baru kita berfikir tentang keseimbangan hidup antara material dan spiritual.
  • Intinya, bagaimana kita mengubah pola fikir generasi milenial Hindu untuk memiliki semangat bekerja keras.

9.    Purni Dresta:
  • Umat Hindu semestinya jangan terjebak dengan bebantenan-bebantenan yang ribet.
  • Saya bersama anak-anak lebih memilih simpel-simpel saja,  melakukan pemujaan setiap hari  dengan mempersembahkan mantram Tri Sandya dan japa.  Tidak terikat dengan bebantenan.
         Om Tat  Sat  swaha


Blog, Updated at: January 27, 2019

0 comments:

Post a Comment


Klik Untuk Melihat Halaman